Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

Histats

Kamis, 11 Agustus 2011

Hakikat Niat

Hakikat Niat, Niat itu bukanlah ucapan seseorang yang berbunyi "nawaitu" (saya berniat). Ia adalah dorongan hati seiring dengan futuh (pembukaan terhadapnya) dari Allah SWT. Kadang-kadang niat itu mudah untuk dihadirkan tetapi kadang-kadang juga sulit. Barang siapa hatinya dipenuhi dengan urusan din, ia akan mendapatkan kemudahan dalam menghadirkan niat untuk berbuat baik. Sebab, ketika hati telah condong kepada pangkal kebaikan, ia pun akan terdorong pada cabang-cabang kebaikan. Barang siapa hatinya dipenuhi dengan kecenderungan kepada gemerlapnya dunia, ia akan mendapatkan kesulitan besar untuk menghadirkannya, bahkan dalam mengerjakan yang wajib sekalipun. Untuk menghadirkannya ia harus bersusah payah.

Hakikat Niat, Umar bin Khattab r.a. meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda yang artinya, "Hanyasanya amal-amal itu tergantung pada niat. Dan, seseorang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barang siapa niat hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya pun kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa niat hijrahnya kepada dunia yang diinginkannya atau wanita yang akan dinikahinya, hijrahnya pun untuk apa yang ia niatkan." (HR Bukhari dan Muslim). Imam Syafii berkata, "Hadis ini adalah sepertiga dari ilmu."

Kalimat "Hanyasanya amal-amal itu tergantung kepada niat" berarti baiknya amal yang dikerjakan sesuai dengan sunah itu tergantung kepada kebaikan niatnya. Ini seperti sabda beliau yang artinya, "Hanyasanya amal-amal itu tergantung kepada akhirnya." Kalimat "Dan seseorang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan" berarti pahala amal seseorang itu tergantung kepada kebaikan niatnya. Kalimat "Barang siapa niat hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya pun kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa niat hijrahnya kepada dunia yang diinginkannya atau wanita yang akan dinikahinya, hijrahnya pun untuk apa yang ia niatkan" sesudah disebutkannya kaidah di atas adalah sebagai contoh dari amalan-amalan yang memiliki kesamaan bentuk pelaksanaan tetapi berbeda dalam hal hasil.

Meskipun amal seorang hamaba itu tergantung dari niatnya, bukan berarti setiap amalan yang memiliki niat baik itu pasti hasilnya baik. Niat yang baik akan menghasilkan kebaikan hanya pada amalan kebaikan atau ketaatan atau yang dibolehkan oleh syariat. Oleh karena itu, niat baik itu tidak mengubah kemaksiatan dari hakikatnya.

Tidaklah pantas seorang jahil menafsirkan keumuman sabda Rasulullah saw. di atas bahwa kemaksiatan itu berubah menjadi ketaatan atau kebaikan karena niat yang baik. Sabda Rasulullah saw. itu hanya berlaku untuk ketaatan dan perkara-perkara yang mubah (yang dibolehkan).

Faktor niat memang sangat penting. Ketaatan juga bisa berubah menjadi kemaksiatan karena niat. Begitu juga perkara yang mubah, hal itu bisa berubah menjadi kemaksiatan karena niat. Jadi, pada dasarnya, keabsahan suatu ketaatan itu terikat kepada niat.

Demikian halnya dengan berlipatgandanya pahala dari suatu amal, ia tergantung dari niatnya. Suatu amal, meskipun sepele, tetapi diniatkan dengan niat yang baik dan tujuan-tujuan mulia, maka amal tersebut akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Perkara-perkara yang mubah sekalipun sesungguhnya secara keseluruhannya mengandung satu niat atau lebih. Oleh karena itu, niat-niat yang banyak itu bisa menjadi bentuk ketaatan yang bernilai tinggi serta terdapat pula derajat yang tinggi. Inilah pentingnya seorang hamba itu mengerti tentang hakikat niat. Semakin mengetahui tentang hal ini, seorang hamba akan semakin beruntung. Dengan amal ibadah yang dilakukannya, ia selalu memiliki niat-niat yang baik dan utama, sehingga dengannya ia bisa mencapai derajat-derajat yang utama.

Tidak ada komentar:

Followers

Jadwal Sholat

Prayer Times For 6 Million Cities Worldwide
Country:

Translate

timeline

Bisnis




 
This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by HARI YANG CERAH