Diberdayakan oleh Blogger.

Kontak

Handphone :

Kontak Phone : 085774557493
Sms : 089657837178


WhatsApp

WhatsApp

PIN

PIN

ALTEKINDO

ALTEKINDO
Businessman - Marketeer - Blogger - Trader - Bitcoiner

Histats

Minggu, 04 Maret 2012

Benarkah Allah Sudah Mati?

Benarkah Allah Sudah Mati?, Inilah pertanyaan penting jika kita berhadapan dengan 'para pembunuh' tersebut. Jawabannya, Allah tidak akan mati. Saya akan mengupas topik ini dengan jalan menepis pedang-pedang pembunuh di atas.

Benarkah Allah Sudah Mati?, Friederich Nietzsche, diam-diam dalam lubuk hatinya yang paling dalam adalah pribadi yang sangat mengagumi pribadi Yesus. Kendatipun ia mengumandangkan pembunuhan Allah, tetapi sayang ia tidak sampai bertanya kepada dirinya sendiri “Mengapa saya mengagumi Yesus?”. Tetapi yang lebih mengejutkan di akhir kehidupannya, menjelang kematinnya, Nietzsche dengan suara bergetar memohon kembalinya Allah “Tidak, kembalilah dengan semua kesengsaraanmu, oh kembalilah kepada penyendiri yang terakhir. Semua linangan air mataku, mengalir demi dirimu! Dan bara terakhir dari hatiku menyala untukmu!"

Itulah Nietzsche. Lalu bagaimana dengan Karl Marx. Kepadanya kita perlu bertanya benarkah agama merpakan tempat pelarian? Dan benarkah bahwa agar dapat menjadi rasional manusia harus berhenti tunduk pada Allah? Tampaknya dua pertanyaan ini akan membuat mukanya merah padam. Marx keliru dan pengandaiannya sama sekali tidak benar. Agama bukanlah tempat pelarian tetapi justru tempat memberdayakan para penganutnya untuk membangun masyarakat yang solider menghargai status sosial, saling menghormati, serta melawan ketidakadilan dan pemerasan. Dari sini jelas terlihat bahwa dalam agama kita tidak terbelenggu, justru sangat membantu masyarakat untuk menumbuhkembangkan rasionalitas.

Pertanyaan bantahan mesti juga kita ajukan kepada Ludwig Feurbach, apakah benar agama hanyalah proyeksi manusia? Inilah yang tidak pernah dibuktikan olehnya. Feurbach tidak pernah membahas pertanyaan tentang kebenaran agama pada dirinya sendiri. Ia hanya membahas fungsi agama dalam upaya untuk membuat manusia menjadi dirinya sendiri.

Kekurangan lain yang membuat pedangnya tidak terlalu tajam di hadapan gagasan tentang Allah adalah ketidaksanggupan Feurbach untuk menjelaskan makluk yang diproyeksikan itu tak terhingga, dan maha. Bukankah dalam agama-agama Allah itu dilukiskan sebagai yang tak terhingga, pengada tak terhingga, lain daripada manusia. Lalu bagaimana mungkin Allah yang seperti itu disebut hasil proyeksi manusia?

Lalu,tentang Sigmund Freud. Pertanyaan yang mesti diajukan kepadanya adalah benarkah agama merupakan neurosis kolektif, dan Allah disujud karena kita takut dijeboskan ke neraka misalnya? Jawabannya jelas tidak. Banyak orang beragama percaya kepada Allah tidak menunjukkan tanda-tanda neurotik sama sekali. Banyak yang mengamalkan agamanya sebagai kebebasan yang memungkinkan manusia berkembang sebagai manusia yang utuh dan otentik. Jadi bukan karena takut atau gila kita beriman kepada Allah, tetapi justru karena kita bebas dan percaya kepada Allah.

Terakhir adalah pertanyaan untuk Jean Paul Sartre. Pertanyaannya adalah apakah bebas berarti bahwa manusia mengambil keputusan tanpa acuan apa pun, tanpa latar belakang tertentu? Bukankah kita mengambil keputusan – salah satunya percaya kepada Allah – karena terikat oleh latar belakang tertentu atau nilai-nilai tertentu? Mungkin ia akan menjawab kita harus menciptakan nilai sendiri, karena kita manusia bebas. Tapi apakah nilai itu nyata? Di sinilah letak kekurangannya. Kekeliruannya terletak pada anggapannya bahwa manusia itu murni kesadaran dan subjektivitas, ia selalu membawa diri sendiri, dengan kodratnya dalam segala-galanya, tetapi tidak pernah memikirkan kalau justru dalam realitas kehidupan subjektivitas, nilai dan keputusan itu diambil. Jadi singkatnya, kebebasan kita justru akan nyata jika kita berhadapan dengan pelbagai kenyataan yang bernilai masing-masing dengan kekhasan dan bobotnya sendiri.

Dari bantahan-bantahan di atas dapat diringkas demikian: sesungguhnya Allah itu tidak akan pernah mati. Berbagai kritik, pandangan dan gagasan yang menghantam ke soal eksistensi Allah sebenarnya karena ketidakpuasan terhadap keadaan, situasi sejarah yang mempengaruhi pola pikir dan perdebatan filosofis pada zamannya. Semisal situasi dekadensi yang melahirkan nihilisme (Nietzsche), kemiskinan, perbudakan dan pertentangan kelas (Marx), ketiadaan orientasi hidup (Feurbach), ketakutan yang mencekam secara psikologis (Freud) dan juga sitausi keterbelengguan, dan keterikatan pada norma dan tatanan yang mapan (Sartre).

Pertanyaan yang mendesak bagi kita sekarang adalah sejauh mana manusia sekarang ini memahami keberlangsungan relasinya dengan Allah. Masih relevankah agama tradisional menjadi jalan bagi keselamatan. Jika kita mencoba untuk menghadapkan manusia sekarang ini pada fakta-fakta kontemporer, tanpaknya Allah “tidak” lagi mendapat tempat yang istimewa dalam setiap permenungan sejarah hidupnya, apalagi agama-agama tradisional.

Tidak ada komentar:

Followers

Jadwal Sholat

Prayer Times For 6 Million Cities Worldwide
Country:

Translate

timeline

Chat


Bisnis




SPONSOR

 
This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by HARI YANG CERAH