Diberdayakan oleh Blogger.

Kontak

Handphone :

Kontak Phone : 085774557493
Sms : 089657837178


WhatsApp

WhatsApp

PIN

PIN

ALTEKINDO

ALTEKINDO
Businessman - Marketeer - Blogger - Trader - Bitcoiner

Histats

Minggu, 04 Maret 2012

Berbicara tentang Allah - Kematian Allah

Berbicara tentang Allah - Kematian Allah, Berbicara tentang Allah tidak saja sulit, tetapi juga mengundang bahaya. Sulit karena Allah bukanlah objek empiris. Allah tidak hanya tidak dapat diinderai, tetapi juga tidak dapat dijangkau dengan daya pikiran manusia. Allah berada di luar tapal batas penalaran manusia.

Berbicara tentang Allah - Kematian Allah, Berbicara tentang Allah juga mengudang bahaya karena harus hati-hati, agar gagasan, perkataan dan uraian tentang-Nya jangan tanpa disadari membuat-Nya menjadi berhala ciptaan pikiran dan imajinasi semata.

Namun justru karena ketakterjangkauan, juga karena ‘kesangsian’ yang mendalam dan paradoks antara ‘sulit’ dan ‘bahaya’ tersebut manusia menyadari pentingnya sebuah refleksi. Sebagian besar orang pada segala zaman menyadari, bahwa keinsyafan dan kadang kala pengalaman khusus tentang Allah perlu direfleksikan secara mendalam.

Dari refleksi tersebut lahirlah pemahaman tentang Allah, yang nantinya dalam agama-agama dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah ‘ruang’ sakral yang tidak hanya dituntut untuk tunduk tetapi juga percaya.

Namun perlu dicatat bahwa upaya manusia untuk memahami Allah dalam agama manapun terus berkembang dan bahkan dapat berubah. Sebagaimana halnya waktu itu berubah dan kitapun turut berubah di dalamnya. Lantaran itu masa depan Allah dalam agama dipertanyakan. Tulisan kecil ini mencoba untuk menjawab pertanyaan ini, adakah masa depan bagi Allah dalam agama?

Kematian Allah
Ada sebagian orang yang meragukan dan bahkan menyangkal Allah akan bertahan di masa depan. Salah satu alasan yang sering diperbincangkan adalah karena gagasan tentang Allah tidak ada artinya, tidak bisa dimengerti dan tidak bisa dibuktikan. Lantaran itu Allah sebaiknya dienyahkan, gagasan tentang Allah dibuang, dilupakan atau dicoret dari bahasa serta pikiran manusia.

Di bawah ini saya akan menunjukkan para pembunuh, figur-figur pembantai yang menjerembabkan Allah pada kematian. Dengan pedangnya masing-masing, mereka mencoba untuk membunuh, menyayat-nyayat eksistensi Allah. Lalu memaklumkan bahwa “Allah sudah mati, dan kami yang membunuhnya”
Kematian Allah pertama kali dilontarkan oleh Friederich Nietzsche. Baginya Allah adalah ciptaan manusia. Namun setelah manusia menciptakan Allahnya, ia bahkan balik menguasai, menindas dan memasung kebebasan manusia serta tidak berbelas kasih. Oleh karena itu Allah harus dimatikan.

Berbeda dengan Nietzsche, Karl Marx mengatakan bahwa agama adalah candu bagi rakyat, hanya tempat pelarian, karena agama menunjuk pada ketidakberesan keadaan dalam masyarakat. Agama melumpuhkan semangat perjuangan, dan bahkan membuat jarak status sosial dalam masyarakat. Oleh karena itu untuk apa percaya kepada Allah yang daripadanya tidak menguntungkan, membuat manusia bodoh dan tidak rasional.

Kematian Allah juga dikemukakan oleh Ludwig Feurbach. Menurutnya Allah hanyalah hasil proyeksi manusia akan dirinya sendiri. Allah sebenarnya hakekat manusia yang dipisahkan dari batas-batas manusia yang sesungguhnya. Oleh karena menurutnya menyembah Allah berarti kita menyembah hasil ciptaan kita sendiri.

Kendatipun senada dengan Feurbach, Sigmund Freud, bapak psikoanalisa, memiliki pedang yang lebih mengejutkan kita. Apakah Allah ada atau tidak, menurutnya tidak perlu dipertanyakan, sebab sudah jelas Allah tidak ada. Sesungguhnya yang ada hanyalah alam dengan manusia dan segala masalahnya. Bagi Freud, Allah itu adalah ilusi, mimpi hasil khayalan semata. Allah adalah superego kolektif sekelompok orang, yang mau tidak mau harus taat karena takut dihukum dan dijebloskan ke dalam neraka.

Lantaran itu Allah harus dilupakan. Inilah yang dianjurkan oleh Jean Paul Sartre. Menurutnya, agar manusia sungguh-sungguh menjadi manusia seutuhnya maka Allah mesti diabaikan. Manusia harus menjadi bebas dari segala ikatan dan kepercayaan kepada Allah. Sebab percaya pada Allah adalah halangan terbesar bagi manusia untuk menjadi bebas. Apabila ada Allah, manusia itu merupakan ketiadaan, kata Sartre.

Rentangan sejarah filsafat menunjukkan bahwa pandangan-pandangan mereka yang telah mengguncangkan kemapanan agama tradisional, khususnya dunia Kristen. Di hadapan mereka tidak hanya agama yang tidak mendapat tempat istimewa dalam dunia, tetapi esensi agama itu sendiri, yakni Allah sungguh-sungguh diabaikan. Merekalah para pembunuh allah.

Tidak ada komentar:

Followers

Jadwal Sholat

Prayer Times For 6 Million Cities Worldwide
Country:

Translate

timeline

Chat


Bisnis




SPONSOR

 
This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by HARI YANG CERAH