Diberdayakan oleh Blogger.

Kontak

Handphone :

Kontak Phone : 085774557493
Sms : 089657837178


WhatsApp

WhatsApp

PIN

PIN

ALTEKINDO

ALTEKINDO
Businessman - Marketeer - Blogger - Trader - Bitcoiner

Histats

Sabtu, 03 Maret 2012

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN SEKTE AHMADIYAH

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN SEKTE AHMADIYAH, Sejarah berdirinya Ahmadiyah, tidak terlepas dari sejarah Mirza Ghulam Ahmad sendiri sebagai pendiri aliran ini. Ia dilahirkan di Qadian tahun 1835, ayahnya bernama Mina Ghulam Murtada. Menurut riwayat, nenek moyangnya berasal dari Samarkand yang pindah ke India pada tahun 1530, yaitu sewaktu pemerintahan dinasti Mughal, mereka tinggal di Gundaspur, Punjab - India. Di situ mereka membangun kota Qadian. Menurut suatu keterangan, famili Ghulam Murtada masih keturunan Haji Barlas dari dinasti Mughal, dan oleh karenanya didepan nama keturunan keluarga ini terdapat sebutan Mirza.

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN SEKTE AHMADIYAH, Tampaknya keluarga Mirza ini, pernah menjadi pembantu setia pemerintah kolonial Inggris di India. Jauh sebelum itu, keluarga tersebut sudah menjalin kerja sama yang erat dengan pimpinan kaum Sikh, Ranjat Singh.5 Dengan demikian, tidak pelak lagi jika aliran Ahmadiyah bersikap kooperatif dengan pemerintah Inggris. Tentunya sikap kooperatif tersebut, berbeda dengan sikap kooperatif yang dijalankan oleh Sayyid Ahmad Khan, sekalipun keduanya sama-sama mendapat reaksi keras dari ummat Muslim India. Apabila Ahmad Khan menginginkan agar ummat Muslim bisa memperoleh kemajuan dan kesuksesan sebagaimana yang dicapai oleh bangsa Eropa, dengan mendirikan Universitas Aligarh, maka Mirza Ghulam Ahmad dengan Ahmadiyahnya ingin mendapat perlindungan secara politis, sehingga ia bebas menyebarkan ide kemahdiannya dan dapat mempertahankan aliran yang didirikannya.

Disamping itu, pendiri Ahmadiyah juga ingin melestarikan tradisi keluarganya yang telah lama menjalin hubungan mereka dengan pemerintah Inggris, sebagaimana pernyataan Mirza Ghulam Ahmad sendiri:

"Sungguh sejak masa mudaku sampai hari ini, aku dalam usia 60 tahun, aku menjadi orang yang gigih berjuang dengan lisan dan penaku supaya aku dapat memalingkan keikhlasan hati kaum Muslimin kepada pemerintah Inggris karena kebaikannya, dan bersikap lunak kepadanya. Dan aku mengajak mereka, agar mereka menghilangkan pikiran untuk berjihad (terhadap Inggris), dimana pikiran seperti itu masih diikuti oleh sebagian mereka yang bodoh-bodoh, dan pikiran semacam itulah yang mencegah mereka tidak mau patuh kepada pemerintah Inggris."6

Demikian pula halnya dengan pernyataan Basyiruddin Mahmud putera Mirza Ghulam Ahmad, yang sewaktu Putera Mahkota Kerajaan Inggris berkunjung ke India, menyatakan:

"Kami atas nama seluruh warga Ahmadiyah mengucapkan Selamat datang atas kunjungan Tuan ke India, dan kami tegaskan kepada Tuan bahwa warga Ahmadiyah adalah setia kepada pemerintah Inggris. Dan insya'allah kesetiaan warga Ahmadiyah ini akan tetap untuk selama-lamanya."7

Dalam perjalanan hidupnya, pendiri aliran ini pernah mendapat pendidikan dasar di kampung sendiri, kemudian ia meneruskan pelajarannya di kota Batala dekat kota Qadian. Sewaktu mudanya, ia diasuh sendiri oleh ayahnya dalam mengurus tanah pertaniannya, kemudian ia menjadi pegawai pada pemerintah Inggris di Sialkot sejak 1864-1868. Disamping pekerjaan sehari-harinya, sisa waktu yang ada, ia pergunakan untuk membaca al-Quran. Selama di Sialkot, demikian Maulana Muhammad 'Ali, ia pernah terlibat dalam suatu persengketaan dengan kaum misionaris Kristen dan sesudah empat tahun tinggal disana, ia dipanggil pulang oleh ayahnya untuk bertani. Karena merasa tidak cocok dengan pekerjaan tersebut, maka sebagian besar waktunya dipergunakan untuk mempelajari al-Quran. Di saat yang sama, ia lebih suka menyepi daripada mengejar keduniaan. Kematian ayahnya, merupakan babak baru dalam sejarah hidupnya, sekarang ia lebih banyak mencurahkan perhatiannya kepada Islam. Tampaknya ia mulai tertarik pada pergerakan kaum Hindu, Arya Samaj yang merupakan tantangan baginya serta mendorongnya untuk menulis beberapa artikel keagamaan, guna menentang kepercayaan dan pemimpin Hindu dalam berbagai media cetak.

Semangat pembaharuan al-Mahdi Ahmadiyah ini, muncul setelah ia melihat kemunduran Islam dan ummat Muslim di satu pihak, dan gencarnya serangan-serangan kaum Arya Samaj, dan kaum misionaris Kristen terhadap Islam di pihak lain. Karenanya ia merasa terpanggil untuk mengadakan pembaharuan dalam masyarakat. Pada awal kegiatannya, ia diterima oleh masyarakat luas termasuk dari kalangan masyarakat Islam ortodoks. Akan tetapi, sesudah Mirza menyatakan menerima wahyu dan telah diangkat oleh Tuhan sebagai al-Masih dan al-Mahdi, masyarakat berbalik memusuhi dan menghinanya.8

Bagi kaum Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad adalah realitas 'Isa al-Masih dan al-Mahdi yang dijanjikan kemunculannya di akhir zaman. Keyakinan ini mereka jadikan sebagai prinsip akidah dan sekaligus merupakan ciri khas teologi aliran tersebut. Untuk menopang kebenaran keyakinan itu, mereka menggunakan ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan tanda-tanda hari kiamat, dan mereka tafsirkan sesuai dengan paham mereka. Demikian pula dengan hadis-hadis Nabi, terutama hadis-hadis yang berhubungan dengan turunnya 'Isa al-Masih dan hadis-hadis Mahdiyyah yang relevan dengan prinsip keyakinan diatas, yang mereka tafsirkan dan sesuaikan dengan peristiwa-peristiwa alamiah. Selain itu, untuk memperkuat signifikansi keyakinan tersebut, mereka juga menggunakan ramalan-ramalan yang mereka sebut sebagai ramalan orang suci atau wali.

Sebagai contoh yang cukup menarik dikemukakan di sini, ialah bahwa diantara tanda-tanda kehadiran al-Mahdi adalah terjadinya dua gerhana di bulan Ramadan, dan belum pernah terjadi sejak penciptaan langit dan bumi. Pertama gerhana bulan di malam permulaan bulan Ramadan, dan kedua, gerhana matahari di pertengahan bulan tersebut. Menurut kaum Ahmadiyah, dua peristiwa alamiah yang dinyatakan dalam hadis riwayat al-Daraqutni, benar-benar telah terjadi di daerah Punjab, India, dimana Mirza Ghulam Ahmad dilahirkan. Kejadian gerhana yang aneh ini, menurut pendapat mereka, terjadi pada hari Kamis 13 Ramadan 1311 H/22 Maret 1894 M, sedangkan gerhana matahari terjadi pada hari Jum'at 28 Ramadan 1311 H/6 April 1894 M. Dua peristiwa ini merupakan tanda-tanda alamiah tentang kebenaran pengakuan Mirza sebagai al-Mahdi dan al-Masih.9 Demikian menurut keyakinan Ahmadiyah. Sebagai pengikutnya, Saleh A. Nahdi mengomentari hadis yang menyatakan: "... Bila kamu melihat di sebelah Timur api berkobar selama tiga atau tujuh hari lamanya, maka harapkanlah kelapangan bagi ummat Muhammad." Api yang berkobar di sebelah Timur diartikan sebagai gunung Krakatau yang meletus tahun 1883.10 Dengan demikian, kehadiran pendiri aliran ini menurut keyakinan pengikutnya telah diramalkan oleh Rasulullah, kemudian mereka interpretasikan secara rasional dan untuk menguatkan alasan-alasan mereka, dikemukakan pula sebuah hadis riwayat Abu Nu'aim dari Abu Bakr ibn Muqri:

"Al-Mahdi akan muncul dari sebuah kampung bernama Karimah."

Dalam keterangan lain menyebutkan, tempat munculnya al-Mahdi adalah kampung Kadi'ah atau disebut juga dengan nama Kara'ah.11 Nama-nama tersebut menunjukkan tidak jelasnya tempat di mana al-Mahdi akan muncul, sehingga siapa saja dapat menafsirkannya sesuai dengan keinginannya.

Menurut paham pengikut Ahmadiyah, al-Mahdi yang dimaksud dalam hadis-hadis Mahdiyyah, bukanlah berasal dari Mekkah atau Madinah, akan tetapi dari Persia yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan keturunan Rasulullah. Kalau pun al-Mahdi itu harus dari Ahlul-Bait, maka yang dimaksudkan tidaklah ia mesti mempunyai hubungan darah dengan Nabi, akan tetapi boleh jadi ia seorang yang saleh, taat, dan setia kepada Nabi, seperti yang ditunjukkan oleh Salman al-Farisi sebagai yang diisyaratkan hadis Nabi dalam al-Jami'us-Sagir: "Salman termasuk (keluarga) kami Ahlul-Bait. Walhasil, demikian Maulana Muhammad Sadiq menegaskan, hadis yang menerangkan bahwa Mahdi di akhir zaman itu berasal dari kalangan Ahlul-Bait, hanyalah menyatakan bahwa dia seorang yang sangat setia dan taat kepada Nabi.12 Sekalipun dia bukan berasal dari keturunan Nabi atau bukan bangsa Arab, tetapi dia seorang yang saleh dan setia kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai yang ditunjukkan oleh Mirza, maka menurut paham aliran ini, dialah al-Mahdi yang dijanjikan oleh Nabi. Oleh karena itu, didalam masalah kemahdian, tentunya kaum Ahmadiyah cenderung menolak hadis-hadis Mahdiyyah yang dipegangi oleh kaum Syi'ah.

Pertumbuhan dan perkembangan Ahmadiyah pada dasarnya dapat dibagi dalam tiga fase, yaitu fase kebangkitan, fase perpecahan, dan fase perluasan daerah pengaruhnya.

Tidak ada komentar:

Followers

Jadwal Sholat

Prayer Times For 6 Million Cities Worldwide
Country:

Translate

timeline

Chat


Bisnis




SPONSOR

 
This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by HARI YANG CERAH